pertanyaan pertanyaan yang kembali memenuhi kepala.
Setelah kembali ke kelas, angin yang berhembus melalui jendela, suasana kelas yang tenang, dan keadaan kelas yang sepi bagai ada di pesisir pantai hampir saja membuat Aneira terlelap dalam tidurnya. Namun, tiba tiba saja Putri memecah mimpi pesisir pantainya dengan teriakannya. “Ini kok apel gua ngga ada di sini sih?” Tergesa-gesa Putri menghampiri meja Aneira dan mengomel panjang lebar. “Nei, kamu ini gimana sih? Kok aku ngga dapet apel? Nei ini kan tanggung jawab kamu, gimana sih ngurus kelas ngga bisa.” Ah ya tuhan, dia mulai lagi… Aneira mengangkat berat kepalanya dari meja, menatap dalam mata Putri dan kembali menghampiri mimpi indahnya. Putri yang jelas kesal karena komplain nya tidak di respon langsung memukul keras meja Aneira dan kembali meninggikan nada bicaranya BRUAKK “Nei, apa sih? Gimana jadinya apel aku?” Tentu saja mereka langsung menjadi tontonan menarik bagi seisi kelas siang itu, Aneira yg semakin kelas dengan perlakuan Putri langsung meninggikan pula nada bicaranya dan menjelaskan panjang lebar kepada Putri. “Put, bisa ngga gausah berisik? Kamu pikir ngurus kalian ber 31 itu gampang? Kamu pikir jadi ketua kelas itu cuma sekedar memerintah sana sini? Kamu pikir segampang itu? Put, aku juga tadi udah ambil 31 buah, tapi aku dilarang sama guru, katanya murid kita cuma 30 orang. Aku juga udah cek ke absen resmi yang ada di ruang guru, disana juga tertulis nya kita cuma 30 orang. Kamu pernah ngga sih mikir sebanyak apa pikiran aku mikirin kalian yang ga ada habisnya? Pernah ngga? Jangan asal marah marah aja” Aneira mengakhiri ucapannya dan pergi meninggalkan kelas.
Suasana ruang kelas menjadi lebih dingin dari sebelumnya, semua orang terdiam setelah Aneira keluar meninggalkan kelas. Hening rasanya, tiada satu orang pun yang berani berbicara, semua orang menjadi seperti patung batu yang baru saja di pahat, kaku sekali. Akhirnya Naaila memberanikan diri menghampiri Putri yang juga sedang emosi di depan kelas. “Udah put udah. Tapi ya put, masa iya murid kita ada 30 doang? Bentar deh” Naaila menghitung jumlah banyak murid yang ada di kelasnya dan ditambah Aneira dengan teliti, jumlahnya memang 31. “Put 31 orang kok jumlahnya. Kok 30 sih di dokumen resmi?” Mendengar ucapan Naaila, Amel menyeletuk asal. “hantu kali satunya ahaha” Fiona justru menganggap ucapan Amel serius. “Eh iya? Gimana kalo ternyata kita beneran 30 di mata orang lain? Dan ada 1 siswa yang cuma kita dan wali kelas kita yang bisa lihat?” Semua orang tampak sangat tertarik dengan ucapan fiona. Di sisi lain, Felice yang sedang tertidur di pojok an kelas sembari mendengarkan musik secara tiba tiba saja ia berteriak dan melempar earphone yang dipakainya. Ia tampak ketakutan sekali, semua orang langsung menuju di pojok kelas tempat Felice berada dan menanyakan keadaan nya. “Lis? Lo kenapa?” Felice yang masih syok berusaha menjelaskan apa yang ia dengar barusan. “Sumpah ya, tadi gua lagi tidur kan, tiba tiba musik gua error trus ada suara suara teriakan sama nangis nangis gitu. Kaget banget gua sumpah” Semua orang kebingungan dan mencoba mendengarkan musik yang baru saja Felice maksud. Memang benar, ada suara teriakan yang keras di musik itu yang entah darimana datangnya. Shafira menyeletuk dengan wajah ketakutannya “Anjir lah, ada setan tah kelas kita ini? Anjir pindah kelas lah gua” belum sempat mereka semua berdiskusi tiba tiba saja ada burung yang terbang dengan cepat tiba tiba menabrak salah satu jendela kelas mereka yang membuat keadaan kelas menjadi semakin ricuh, semua orang membuat spekulasi nya masing masing. Nazwa membuka pembicaraan, suaranya bergetar ketakutan. “Cok apa sih, siapa pun hantunya please ngaku, jangan gini dong tolong” tiba tiba saja lampu kelas berkedip sendiri dan ada satu lagi burung yang kembali menabrak ke dinding kelas mereka. Semua orang semakin menunduh satu sama lain, Aneira yang baru kembali ke kelas bingung dengan keadaan kelas yang ricuh dan berusaha membuat mereka semua tenang. “Guys guys, kenapa ini kenapa? Tolong tenang dulu semuanya” Naaila menjelaskan semua yang terjadi kepada Aneira, dan Aneira pun menceritakan kepada semua orang apa yang terjadi tadi siang saat dia melihat absen resmi yang ada di ruang guru. Semua orang kembali ketakutan dan tiba tiba saja di tengah keributan itu Shafira membuka suaranya. “Jadi…bener? Kelas kita ada satu orang yang ga bisa terlihat sama orang lain selain kita dan wali kelas? Hah, jadi beneran…” ucapan Shafira barusan sukses membuat semua orang hening dan bertanya-tanya. Kini, pertanyaan pertanyaan yang ada di kepala Aneira justru ada di kepala seluruh murid kelas. Semua orang terlalu cepat menyimpulkan bahwa hantu di kelas mereka hanya ada satu, semua orang tidak tahu ada yang dari tadi menatap keributan itu dari sisi lain kelas, ia menatap keributan itu dari depan kelas. Ia yang bisa terlihat oleh orang lain, ia yang bahkan lebih berbahaya dari hantu yang mereka pikirkan itu.